Hanya, Berterimakasih

.
.
.
.
.
.
aku adalah alam semesta
tapi aku kerap melupakannya
lupa untuk menuliskan sajak mereka dalam kertas hidupku
lupa mencurahkan kegelisahanku
dalam tinta perjalanananku

sebenarnya aku tidak lupa, hanya saja
aku tidak ada waktu atas diriku
ya kau tahu, diriku telah diperbudak waktu

lalu, tiba tiba ada segerombolan angin datang kepadaku
sontak mereka langsung memukul imajinasi rasa ku
dan tiba tiba entah kenapa aku jadi
bernafsu untuk menuliskan sajak-sajak
sebagai persembahan dan permintaan maafku  kepada mereka

angin itu hilang
ia hanya mampir tuk sekejap
lalu pergi
tapi ia meninggalkan pesan
"dan dewaasa ini sepertinya aku ingin kembali ke keabadian dan ketiadaan"

entah apa
entah siapa
entah bagaimana
tapi mengapa?







hari itu, aku sedikit terlambat untuk bangun dari tempat peristirahatan.
kemudian, layaknya manusia "modern" lainnya, aku mengambil sebuah benda eloektronik bernama gadget, sejujurnya aku tak suka padanya, tapi dunia memaksaku tuk menyukainya. sedikit tersadar, bahwa aku tidak hidup di duniaku sendiri, melainkan dunia yang penuh dari perputaran tekanam globalisasi, dan bermacam gengsi. setelah aku membolak-balikkan isi gadget, yang sebenarnya hal yang sama selau kulihat dan tak pernah berubah sejak pertama, yaitu foto binatang jalan, yg berjudul aku. entah kenapa aku ingin memasang gambar wajahnya di layar depanku, mungkin mereka berprasangka hanya sok gaya saja. bukan sekedar itu, tapi aku masih bisa membaca sajak dari raut muka si binatang jalan, sajak-sajaknya tertulis di secarik kertas kerontang, tapi terbaca dan tersimpan di banyak kepaa manusia. singkat cerita, ada pesan dari perempuan, sebut saja namanya dinda,
dinda adalah salah satu perempuan di sekolahku, sekaligus teman dekat. setiap hari memang, aku dan dinda selalu berpesan ria, terhitung mungkin sudah 1 bulan aku sedang dekat dengannya, hariku biasanya diisi ucapan selamat pagi dan beberapa ucapan "tetek bengek" lainnya, ketika kasmaran menyelimuti hati. setiap pagi, secarik pesan elektronik darinya, selalu terkirim masuk ke dalam gadgetku, biasanya aku dan dinda selalu bercerita satu sama lan tentang apa saja, perbincangan kita bukan hanya sekedar soal cinta dan asmara tapi juga soal rasa, bahkan angkasa dan seisinya saja mungkin sudah 2 kali khatam kami membicarakannya. pagi itu dinda, memngirim pesan yang tidak menggembirakan, sebenarnya tanpa berbicara kepadaku, ia bisa saja menyelesaikan permasalahannya, tapi seperinya dinda ingin mencuri sedikit perhatian dariku, sembari membicarakan masalahnya, dinda menyebutkan seorang pria bernama fachri beserta halaman tulisannya. dinda bilang, tulisannya bagus, lembut. tak lama kemudian, aku membaca kalimat demi kalimatnya, kata per kata hingga huruf dan rasa nya ketika menuliskan sajaknya. aku tak terbayang bagaimana ia melawan belenggu di dirinya, terkadang gugur imajinasi karena kontemplasi fantasi, keguguran itu membuat tangannya menuliskan kata demi kata yang beranak pinak terus semakin banyak, semakin kaya, semakin dalam rasa,  hingga rasa nya sampai dalam kamar rasaku. ia mengetuk kamar itu, bertanya "bisakah aku meminjam selimut kedamaian?" . rasaku menjawab "ini, semoga kau bisa berdamai dengan dirimu yg lalu,kini, dan nanti".

ternyata tak mudah, dan berterimakasihklah kepada semesta, berkat mereka ia membisikkan rasa melaluli karya seorang teman, dan akhihrnya aku ingij bercerita lebih panjang, lebih lama, dan lebih dalam dengannya, yang waktu pun tak dapat membatasi. ya diruang imajinasi, kita dapat meangguhkan segala hambatan, seperti waktu bahkkan nyawa. karena imajinasiku tak bernyawa, ia kan abadi dalam selimut keabadaian dan kedamaian.

tulisan ini lahir dari tulisan "kegelisahan" seseorang teman sejawat pula bernama "fachri"( dalam cerita kontemplasi.romantismenya), belum lama aku berkenalan denganya, tapi sepertinya rasa ku dan rasanya dapat berteman untuk selamanya.

sekian


gang kesadaran, 3 juni 2017

Comments

Popular posts from this blog

DIBAWAH ATAP KEGELISAHAN

TIDAK BERJUDUL

aku adalah lakon