SAJAK PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN
Sajak perempuan berkalung sorban
Senandung yang terdengar di telingaku
Mengingatkan ku kepada kesederhanaan seorang perempuan
Berbalut kain sorban
Ketuk demi ketuk musiknya
Mengigatkan ku kepada keanggunan senyumya
Lirik-liriknya pun
Masih mengingatkanku kepada kata nan lambut yang keluar dari
rongga mulutnya
Oh perempuan berbalut kain sorban,
Ketika kau berjalan menghampiri riuh pikuknya dunia
Begitu kokoh langkah demi langkahmu,
kurasa angin pun tak kan dapat menggoyahkannya
Aku tak ahu bagaimana tuhan menciptakanmu, begitu elok nan
indah parasnya
Kurasa manusai lain pun kan terpana
Tapi aku tak ahu bagaimana dengan hatimu
Apakah sama dengan parasmu?
Seringkali aku kecewa dengan perempuan lain yang sama
Tapi kurasa tuhan selalu menjaga hati dan sikapmu
Tak tahu bagaimana kekecewaanku terhadapamu
Jikalau hati mu tak sesuci wajahmu
Aku pernah membaca sajak tuhan ketika ia menciptakan
perempuan
Begitu lembut dan pelan ia menciptakan perempuan,
Sehingga malaiktnya pun bertanya “ apakah yang sedang engkau
ciptakan wahai tuhanku, aku lihat ia begitu sempurna”?
Lantas Ia menjawab “ aku membuat sosok peremupan, ia aku
buat sempurna tapi akan kuberi hanya 1 kekurangan yaitu ia lupa betapa
berharganya ia.
Oh jangan-jangan kodrat yang diberikan tuhan ,dengan senang
kau tergulai dengan kekurangan mu
Oh jangan, kau begitu suci, kau begitu anggun
Kau begitu rupawan, kau begitu jelita
Tuhan, tolong jaga dia dari dunia yang aku tak tahu dunia
macam apa ini. Ketika kebenaran di salahkan, dan kesalaham dibenarkan.
Ketika cinta dan pengkhianatan tak lagi ada perbedaan
Ketika kejujuran dan kebohongan menjadi sukar di bedakan
Tuhan jaga hatinya, aku tak ingin hatinya kelam.
Ya kelam seperti dunia ini,
seperti cahaya, kehadirannya hanya alasan untuk terciptanya kegelapan.
Aku tak percaya pada cahaya, begitupun kegelapan.
Yang kutahu hanya nur
seperti cahaya, kehadirannya hanya alasan untuk terciptanya kegelapan.
Aku tak percaya pada cahaya, begitupun kegelapan.
Yang kutahu hanya nur
Semoga ia menjadi nur bagi diriku,
Kutuliskan kegelisahannku
dengan ini, semoga terketuk di hatimu wahai perempuan berbalut sorban.
Jakarta, 10 februari 2017

Comments
Post a Comment